“Geef mij maar nasi goreng.. Met en gebakken ei..
Wat sambal en wat kroepok.. En een goed glass bier erbij..”
Kerinduan akan masakan Indonesia tertuang dalam lagu “Geef mij maar nasi goreng” yang dinyanyikan oleh Wieteke van Dort alias Tante Lien, seorang blasteran Indo yang lahir di Surabaya pada tahun 1943.”
Memang tidak dapat dipungkiri bahwa Indonesia dan Belanda pernah mempunyai “hubungan” sejak ratusan tahun yang lalu saat Belanda datang untuk menjajah Negara Indonesia. Sejak tahun 1816, Kerajaan Belanda mulai dating dan serius menduduki daerah-daerah di nusantara seperti Jawa, Sumatera, Maluku dll. Pada masanya, para penjajah sering menggunakan bahasa sehari-hari dengan perpaduan bahasa Belanda dan Melayu yang merupakan akar munculnya bahasa Indonesia sebahai bahasa nasional. Proses penyerapan bahasa Belanda kedalam bahasa Indonesia semakin kental ketika pada awal abad ke-20 bahasa Belanda menjadi bahasa modern yang tingkatnya sama dengan bahasa Inggris pada saat ini. Hanya orang dengan strata menengah keataslah yang mampu menggunakan bahasa Belanda.
Russel Jones, seorang ahli bahasa berpendapat bahwa bahasa Indonesia dan Melayu memiliki sekitar 4000 kata serapan dari bahasa Belanda, terutama dalam bidang teknologi dan system administrasi pemerintahan. Tengok saja kosakata Indonesia yang mendapat serapan dari bahasa Belanda seperti : Docent (Dosen), Apotheker (Apoteker), Architectuur (Arsitektur), Ijscream (Eskrim), Koek (Kue Basah) dll. Namun banyaknya serapan kosakata bahasa Indonesia dari bahasa Belanda tidak dibarengi dengan eksistensi bahasa Belanda di Indonesia. Keberadsaan bahasa Belanda yang seharusnya mendapat peran penting malah “kalah eksis” dibanding bahasa-bahasa lainnya seperti bahasa Jepang, Jerman, Korea, Arab dll.
Bahkan di Indonesia hanya ada satu universitas yang mempunyai prodi bahasa Belanda yaitu Universitas Indonesia yang sudah lebih dari 40tahun menyelenggarakan pendidikan jenjang S1 Program Studi Bahasa Belanda. Ditambah lagi dengan keberadaan lembaga kursus bahasa Belanda yang kalah saing dengan lembaga-lembaga kursus bahasa asing lainnya. Padahal secara tidak langsung mempelajari bahasa Belanda mempunyai manfaat karena dapat membantu pemahaman terhadap perkembangan bahasa Indonesia. Sejarah dan arsip-arsip nasional Indonesia pun banyak yang ditulis menggunakan bahasa Belanda.
Bahasa Belanda juga memiliki beberapa kemiripan dengan bahasa Jerman dan bahasa Inggris karena bahasa Belanda masuk kedalam rumpun bahasa Jermanik yang mana bahasa Belanda memiliki hubungan kekerabatan dekat dengan bahasa Jerman, Inggris, Dinsk, Swensk, dan Islan. Bahasa ini dipakai lebih dari 22 juta orang di dunia dan menjadi bahasa resmi di Belanda, Belgia, Suriname, Aruba, Curacao dan Sint Marteen.
Jadi tidak ada salahnya kita sebagai orang Indonesia mempertahankan eksistensi bahasa Belanda di Indonesia karena bagaimanapun juga bahasa Belanda tetap mendapat tempat penting dalam perkmbangan bahasa Indonesia. Setuju?
Dari berbagai sumber.